Apakah bisnis merupakan tema yang Kristiani?. Sering kali kita canggung dan paling TOP mengakui bisnis hanya sebagai “bagian” dari Kekristenan. Benarkah seperti itu? Ayo kita pelajari kebenarannya melalui kebenaran Alkitab!
BERASAL DARI HATI BAPA
Bisnis dapat difahami sebagai (1) melakukan sesuatu secara profesional, (2) digerakan oleh semangat keberpeluangan (entrepreneurship) dan (3) menghasilkan manfaat seluasnya (value creation). Mengacu kepada pengertian ini maka jelas sekali maksud Bapa dalam menciptakan Adam dan Hawa pada kejadian 1:26 adalah tentang untuk melakukan bisnis, yakni “supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (melakukan pengupayaan kehidupan terbaik yang bisa dilakukan). Tentu saja semuanya itu memiliki tantangan pengerjaan bagi Adam yang akan membutuhkan profesionalitas, semangat keberpeluangan (entrepreneurship) dan arah pengembangan berbagai nilai kebaikan (value creation) dalam melakukannya.
DIORIENTASIKAN ANAK
Tema bisnis ini sendiri sebenarnya juga sangat kuat menempel dengan pribadi Yesus yang merupakan anak seorang tukang kayu. Kondisi ini menjelaskan mengapa Yesus cakap sekaligus tegas menyatakan nilai – nilai bisnis pada Matius 25:1-46. Melalui perikop Matius 25:1-13 maka Kristus sedang mendorong nilai profesionalisme melalui kesiapan para gadis bijaksana membawa minyak bagi pelita. Selanjutnya melalui perikop Matius 25:14-30 maka Yesus sedang menggambarkan semangat keberpeluangan (entrepreneurship) dari Sang Tuan yang mempercayakan talenta dan respon para hamba dalam keberpeluangan mengelola talenta. Akhirnya melalui perikop Matius 25:31-46 maka memperlihatkan Kristus membutuhkan hasil yang nyata dari umatNya untuk menolong berbagai kesusahan yang ada (value creation). Uniknya, ketiga perikop di atas dimulai dari ayat tentang “Kerajaan Allah”.
MENJADI MODEL KEHIDUPAN HAMBA TUHAN
Bisnis juga ternyata merupakan kegiatan yang dilakukan oleh rasul besar Kekristenan yang bernama Paulus sebagai pengusaha tenda (kemah) dalam mengembangkan kemandirian pelayanan (1 Tesalonika 2:9; 2 Tesalonika 3:8; Kisah Para Rasul 18:1-3). Rasul Paulus merupakan penulis tiga belas kitab dari dua puluh tujuh kitab pada Perjanjian Baru. Paulus tegas sekali menyatakan “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tesalonika 3:10). Gerak hidup Paulus ini menjadi daya integrasi bahwa kehadiran bisnis sangat baik bagi gerak pelayanan sekaligus sangat wajar gerak pelayanan dilakukan bersamaan dengan kegiatan bisnis.
KESIMPULAN
Seringkali bisnis dipandang sebagai bagian kekristenan yang dipersepsikan “kurang penting” atau “seadanya sajalah”. Implikasinya, maka pengembangan nilai – nilai dalam melakukan bisnis tidak pernah menjadi pelajaran utama dalam Kekristenan. Mengacu kepada pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa bisnis merupakan salah satu tema utama pada kekristenan, selain tema penting lainnya seperti keselamatan dan kehidupan sesudah kematian. Tulisan ini menunjukkan bahwa melakukan bisnis merupakan inisiasi Bapa sejak mulanya, diorientasikan secara kuat oleh Kristus dan diimplementasikan secara nyata oleh Paulus. Temuan ini menegaskan bahwa melakukan bisnis itu Kristiani sekali (Kristen banget!).
Kiranya temuan ini menjadi peneguhan agar para pebisnis dan profesional tidak perlu ragu mengkristalkan diri menjadi para hambanya Tuhan. Para hamba Tuhan yang berfokus melayani hatinya Bapa, seperti Tuhan Yesus.
Dr. Pinpin Bhaktiar D.Th
Founder Secibiz Institute
Corporate Entrepreneurship Consulting & Training
Deputi 3 Business & Ministry Development FGBMFI
081297387770






